Sabtu, 23 Mei 2015

Menulis Fiksi (Bag.I dan II)


Oleh : Kak Rahma.K.A

Menjadi penulis adalah pilihan luar biasa: cerdas,kreatif,interpretatif dinamis, dan mampu mempengaruhi opini dan bahkan prinsip hidup pembacanya.. Setidaknya ada 3"kelebihan" menjadi penulis:

 1.mampu berpikir "tidak biasa"
 2. Mampu berpikir logis dan sistematis. Tulisan yang baik bukanlah tulisan yang njelimet, memusingkab kepala pembacanya, tetapi tulisan yang terang,teratur,sistematis dan logis. 
3.mampu menciptakan interpretasi (penafsiran) Tentu saja subyektivitas penulis akan mempengaruhi tulisannya.

Panduan Menulis Fiksi
     Dunia cerita,bentuknya cerpen dan novel. Sebelum masuk ke terbaik penulisan fiksi perlu sya tegaskan bahwa hal pertama yang kudu dibenahi sebelum menulis fiksi ialah MINDSET. Jika kamu berpikir bahwa menulis fokus adalah menuliskan imajinasi, itu tak sepenuhnya benar. Dekat ke salah.. »betul bhwa fiksi adalah cerita rekaan,karenanya karenanya ia membutuhkan imajinasi. Kian kuat imajinasi kian kuatlah fiksinya. Tapi perlu kamu ketahui:

1.BAHWA IMAJINASI YANG KUAT PASTI BERSUMBER DARI          PENGETAHUAN YANG KUAT
2.IMAJINASI TAKKAN BANYAK MEMBUATMU UNTUK BETCERITA BANYAK, AKIBATNYA CERITAMU HANYA MUTER2 KYAK ODONG2..

Secara umum fiksi sebagai sebuah cerita mensyaratkan Hal hal ini: Alur cerita, setting/latar,penokohan,konflik dan ending.

Kita bahas dulu tentang ALUR CERITA.

"Setting atau Latar cerita" Setiap cerita selau membutuhkan latar yg menjadi tempat ia hidup. Apapun dan bagaimanapun latar itu diciptakan, entah itu nyata atau imajiner dan fantasi, latar itu harus ada. Latar bukan hanya lukisan tentang tempat. Bukan! Latar juga mencakup suasana emosi yg terbangun dalam tokoh tokoh itu,karenanya latar bisa dibngun dengan model narasi dan dialog pula.

Latar itu harus natural ups bukan berarti gak boleh membuat latar yang fantasi atau imajiner..tetapi latar yg natural itu adalah latar yang logis Kalau malam tentu gelap donk.. Kalau tahun 1945 ya suasana revolusi Contoh Al shafwa royale orchid.room 734. Dari kamar ini,pesona misterius Masjidik Haram begitu terang didepan mataku. Ya, begitu dekat! Aku hanya perlu waktu 5 menit untuk mencapai ke harapan Ka`bah. Turun lift dua kali, lalu di pintu keluar hotel sudah berjulang jelas bangunan dominan abu2 berarsitektur Timur Tengah ini.
Selalu saja, seperti yang kali ini pun kukatakan pada istriku tanpa bosan, Masjidil Haram beda auranya dengan MAsjidil Nabawi. Jika nabawi bernuansa anggun elegan, masjidil Haram kental suasana misterius musti. Dia mengangguk, membenarkan: ah, senangnya memang punya istri yg nyaris selalu menyetujui untuk hal hal yang tidak prinsipil. "Kamu ngerasa kayak disambut bara tungku ngak setiap keluar pintu lobby hotel?" "Iya panas sekali, mklum suhunya sekarang smpai 47 derajat.." Sahut istriku sambil sedikit menghempaskan nafas. Kujawil lengannya, "lihat itu,dipojok,dekat Anita berjubah hitam yg jualan tasbih dan alquran itu. Anak tanggung di sebelumnya itu tangannya terpotong. Apa kena qishas ya?" Istriku menoleh, lalu menepi sejenak saat rombngan besar jamaah dari turki melintas membelah jalanan nya. Sebagian besar gundul. Selebihnya tambun -tambun kyak timbunan lemak. Percakapan Obrolan Berakhir 


Menulis Fiksi (Bag.I dan II) Menulis Fiksi (Bag.I dan II)

Posting Komentar

Markaz Penulis Muslim